UPAYA BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI KENAKALAN SISWA MAN PURWASRI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian
Kehidupan dewasa ini menunjukkan suatu masa transisi dalam hampir di segala bidang kehidupan, baik dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, pemerintahan maupun dalam pendidikan sekolah, bahkan dalam pola-pola pemikiran manusia. Menurut W. S. Winkel S. J dalam bukunya yang berjudul Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah menyatakan bahwa:
Mengalami suatu masa transisi menimbulkan segala macam tantangan dan kesukaran, baik bagi mereka yang sudah berumur agak tua maupun bagi mereka yang masih muda. Tantangan dan kesukaran ini dapat bersifat ringan, agak berat bahkan sangat berat sesuai dengan penilaian seseorang terhadap hal yang dihadapinya.[1]

Masalah yang ringan biasanya mudah diselesaikan sendiri, tetapi penyelesaian suatu masalah yang kompleks sukar dan sering kali menuntut bantuan dari orang lain. Ada orang yang berkeinginan kuat dan juga mampu menyelesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi sekarang ini atau yang akan mereka alami kelak, dengan membuat pilihan yang tegas di antara berbagai kemungkinan (alternatif) atau dengan mengadakan penyesuaian diri dalam situasi di mana tidak mungkin untuk memilih antara berbagai kemungkinan. Akan tetapi ada pula orang yang tidak sebegitu mampu untuk mencari penyelesaian sendiri, sekurang-kurangnya pada waktu tertentu atau selama mereka masih dalam tahap perkembangan menuju kedewasaan.
Adapun pengertian remaja menurut Conger merupakan “masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.”[2] Hal ini berarti bahwa kalau individu itu mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapinya secara integratif, maka ia akan menemukan identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya kalau ia gagal, maka ia akan berada dalam krisis identitas yang berkepanjangan.
Keberadaan kenakalan siswa di Indonesia saat ini merambah segi-segi kriminal yang secara yuridis formal menyalahi ketentuan-ketentuan yang termaktub di dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau Perundang-undangan Pidana di luar KUHP, misalnya Undang-undang Narkotika.
Dari perkembangan yang terjadi, yang melatarbelakangi timbulnya kenakalan siswa sekarang tidak hanya meningkat dari segi kuantitas tetapi sudah bertambah dalam segi kualitas. Seperti halnya merosotnya moral, etika, serta terjadinya peralihan nilai-nilai universal yang tidak semestinya terjadi.
Mengenai istilah kenakalan remaja, John W. Santrock dalam bukunya “Life-Span Developmentmenyatakan bahwa: “kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).[3]

Yang melatarbelakangi timbulnya kenakalan siswa karena tidak adanya integrasi yang harmonis antara lembaga kemasyarakatan, kepadatan penduduk, kemajuan modernisasi yang cepat dan pengaruh kebudayaan yang masuk. Selain itu, faktor keadaan keluarga yang tidak harmonis, pendidikan  yang salah, keadaan sekolah dengan sistem pendidikan yang tidak menarik, menjemukan, mengabaikan komunikasi dialektis juga sangat berpengaruh.
Dampak kenakalan siswa saat ini hampir tidak terhitung jumlahnya. Akibatnya banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi siswa itu sendiri maupun bagi orang-orang di sekitar mereka. Sampai saat ini masih banyak para siswa yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas. Menyeret siswa pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, di mana siswa sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah siswa bahkan keluarganya harus menanggung beban yang cukup berat.
Kenakalan siswa dalam bidang pendidikan yang terwujud dengan pelanggaran-pelanggaran tata tertib dan norma sekolah memang sudah umum terjadi, namun tidak semua siswa yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar.
Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa pasti akan berimbas pada siswa tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian buruk. Mereka akan dihindari atau malah akan dikucilkan oleh banyak orang. Siswa tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna. Akibat dari dikucilkannya dari pergaulan sekitar, siswa tersebut bisa mengalami gangguan jiwa.
Hal ini terlihat dari banyaknya berbagai fenomena siswa dewasa ini seperti tawuran, penyalahgunaan narkoba, kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, melanggar tata tertib sekolah, mencuri milik orang lain, minum miras, pelecehan seksual, tidur dalam kelas dan lain-lain.
Pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis, karenanya selalu terjadi perubahan-perubahan dan penyesuaian dalam berbagai komponennya. Dalam menghadapi perkembangan ini, para siswa memerlukan bantuan dalam penyesuaian diri melalui layanan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling yang diadakan di lembaga pendidikan (sekolah) merupakan pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan agar individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan bertindak secara wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya. Dengan demikian, dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan dan konseling membantu individu untuk mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
Beberapa masalah psikologis yang menjadi latar belakang perlunya layanan BK, yaitu pertama, masalah perkembangan individu. Melalui layanan BK, siswa dibantu agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya secara baik. Kedua, masalah perbedaan individu dan masalah belajar. BK memberikan bantuan kepada siswa dalam menghadapi masalah-masalah perbedaan individu dan masalah belajar. Selain itu, BK akan membantu siswa menyesuaikan diri secara baik dengan lingkungannya dan melalui program pelayanan BK akan memenuhi kebutuhan siswa di madrasah.
Tujuan pokok diadakannya layanan bimbingan dan konseling di madrasah sebagaimana tertuang dalam buku “Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi)” karangan Tohirin, yaitu: “membentuk pribadi yang berkualitas (insan kaffah dan insan kamil), yaitu sosok pribadi yang sehat jasmani dan rohaninya, dapat mengimplementasikan iman, ilmu, dan amal serta dzikir dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.”[4]
Untuk mengatasi masalah-masalah kenakalan siswa dibutuhkan sebuah solusi konkrit, yaitu sangat dibutuhkannya keberadaan bimbingan dan konseling yang ada di lembaga pendidikan.
Sehubungan dengan keberadaan MAN Purwoasri, apabila dilihat dari segi pengelolaannya bisa dikatakan baik sehingga menjadi ketua salah satu KKM se-kabupaten Kediri, menjuarai olimpiade tiap tahunnya, baik tingkat karisidenan maupun tingkat Jawa Timur. Akan tetapi di sisi lain ada sebuah masalah yang urgen yang perlu ditangani, yaitu terjadinya pelanggaran-pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa. Hal ini harus segera diatasi agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.
Di antara pelanggaran yang dilakukan siswa MAN Purwoasri antara lain membolos, terlambat masuk madrasah, melanggar tata tertib sekolah seperti seragam tidak lengkap, membawa alat perjudian, berambut panjang bagi laki-laki, berkuku panjang, merokok, membawa HP dan lain-lain.[5]
Melihat realitas tersebut, maka perlu adanya sebuah solusi yang konkrit dalam menangani kenakalan siswa. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang: “UPAYA BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENANGANI KENAKALAN SISWA DI MAN PURWOASRI”
Untuk penegasan istilah, di sini penulis menyamakan kata “siswa” dengan kata “remaja” karena siswa pada tingkatan Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah termasuk dalam masa remaja, yaitu berumur 15-21 tahun. Pernyataan ini dikutip dari buku yang berjudul “Kenakalan Remaja Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi” karangan Sudarsono sebagai berikut: “masa rentang kehidupan masa remaja awal berumur 13 tahun atau 14 tahun sampai 17 tahun, dan masa remaja akhir berumur 17 tahun sampai 21 tahun”.[6]

B. Fokus Penelitian
1.  Bagaimana bentuk kenakalan siswa di MAN Purwoasri?
2.  Faktor apa saja yang menyebabkan kenakalan siswa di MAN Purwoasri?
3.  Bagaimana upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri?

C. Tujuan Penelitian
1.  Untuk mengetahui bentuk kenakalan siswa di MAN Purwoasri.
2.  Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan kenakalan siswa di MAN Purwoasri.
3.  Untuk mengetahui upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri.

D. Kegunaan Penelitian
1.  Bagi lembaga
Menjadi tambahan pengetahuan dan bahan pertimbangan dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling di sekolah sekaligus sebagai bahan reverensi bagi yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan Sebagai bahan informasi bagi kepala sekolah dalam memberikan sarana dan prasarana serta perhatian yang sungguh-sungguh terhadap bimbingan dan konseling
2. Bagi guru bimbingan dan konseling di sekolah
a.    Membantu guru bimbingan dan konseling dalam mengevaluasi pelaksanaan program-program yang sudah disusun sebelumnya sehingga dapat diketahui keefisiensian program-programnya.
b.    Sebagai gambaran tentang strategi guru bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa.
3.  Bagi penulis
Dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di sekolah dan sebagai pengalaman hidup yang sangat bermanfaat bagi masa depan. Serta sebagai pengalaman praktis di bidang penelitian.
4.  Bagi pembaca
Penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi strategi bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di sekolah dan di masyarakat pada umumnya.



[1] W. S. Winkel S. J, Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah (Jakarta: Gramedia, 1991), 14.
[2] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: Siswa Rosdakarya, 1998), 91.
[3] John W , Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid II (Jakarta: Erlangga, 2002), 2
[4] Tohirin, Bimbingan dan Konseling., 5.
[5] Wawancaradari Guru Piket, 10 Oktober 2015
[6] Sudarsono, Kenakalan Remaja Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 12-13.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.  Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
1.    Pengertian bimbingan dan konseling
a.    Pengertian bimbingan
Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Year’s Book of Education 1955 dalam buku “Bimbingan dan Konseling” karangan Hallen A., yang menyatakan: “bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.[1]

b.    Pengertian konseling
Definisi konseling menurut beberapa ahli yang termaktub dalam buku “Bimbingan dan Konseling” karangan Hallen A. adalah sebagai berikut:
Menurut Schmuller konseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan. Dikatakan pula oleh Ruth Strang bahwa “Guidance is breader; counseling is a most importance tool of guidance”. Sedangkan menurut Rogers mengemukakan sebagai berikut: “konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.[2]

Berdasarkan makna bimbingan dan konseling di atas secara terintegrasi dapat dirumuskan makna bimbingan dan konseling sebagai berikut:
Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri. Atau proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sistematis dari pembimbing (konselor) kepada konseli (siswa) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya untuk mengungkap masalah konseli sehingga dia mampu melihat masalah sendiri, mampu menerima dirinya sendiri sesuai dengan potensinya, dan
mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya.[3]

2.    Tujuan, fungsi, asas, prinsip, teknik dan jenis layanan bimbingan dan konseling
a.    Tujuan bimbingan dan konseling
Tujuan bimbingan dan konseling ditinjau dari peserta didik yang penulis kutip dari beberapa sumber adalah sebagai berikut:[4]
1.    Mengembangkan seluruh potensinya seoptimal mungkin sesuai bakat dan minatnya sehingga berguna dalam kehidupannya.
2.    Memecahkan masalah-masalah klien atau menumbuhkan kekuatan mereka dalam menyikapi hidup.
3.    Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri, lingkungannya, keluarga, pekerjaan, sosial ekonomi dan kebudayaannya.
4.    Mampu mengatur kehidupannya sendiri, mengambil sikap sendiri, mempunyai pandangannya sendiri, dan menanggung sendiri konsekuensi dari tindakan-tindakannya.
5.    Mampu merencanakan masa depan, dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir, mengenal keterampilan, kemampuan dan minat.
Oleh karena itu, layanan tujuan bimbingan dan konseling secara umum adalah membantu siswa mengenal bakat, minat, kemampuannya serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan pendidikan untuk merencanakan karir yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Sehingga layanan bimbingan dan konseling menuntut adanya relevansi program pendidikan dengan tuntutan dunia kerja dalam rangka menjawab tantangan kehidupan masa depan.
b.    Fungsi bimbingan dan konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Adapun fungsi BK yang penulis kutip dari beberapa sumber adalah sebagai berikut:
1.    Fungsi pemahaman, yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama), mengarah kepada peningkatan kapasitas untuk lebih memilih kontrol rasional daripada perasaan dan tindakan.[5]
2.    Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.
3.     Fungsi pengembangan, yaitu fungsi yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel sekolah atau madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya.
4.    Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi yang bersifat kuratif dengan pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5.    Fungsi penyaluran, yaitu membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6.    Fungsi penyesuaian, yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
7.    Fungsi perbaikan, yaitu membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak).
8.    Fungsi pemeliharaan, yaitu membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
c.    Asas bimbingan dan konseling
Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas BK. Adapun asas tersebut sebagaimana yang tertuang dalam beberapa sumber yang penulis kutip sebagai berikut:[6]
1.    Asas kerahasiaan, yaitu menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (siswa) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2.    Asas kesukarelaan, yaitu menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (siswa) mengikuti atau menjalani pelayanan atau kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3.    Asas keterbukaan, yaitu menghendaki agar konseli (siswa) yang menjadi sasaran pelayanan atau kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (siswa). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan atau kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4.    Asas kemandirian, yaitu menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni konseli (siswa) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
5.    Asas tut wuri handayani, yaitu menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada klien untuk maju.

d.   Prinsip bimbingan dan konseling
Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai pondasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip ini berasal dari konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan dan konseling, baik di sekolah atau madrasah maupun di luar sekolah atau madrasah. adapun prinsip bimbingan dan konseling adalah:
1.    Karena bimbingan dan konseling itu berhubungan dengan sikap dan perilaku individu, maka perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet.
2.    Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individu-individu yang dibimbing agar dapat memberikan bimbingan yang tepat, sesui dengan apa yang dibutuhkan individu tersebut.
3.    Bimbingan dan konseling diarahkan untuk membantu agar individu dapat memecahkan masalahnya sendiri.
4.    Bimbingan dan konseling harus berpusat pada individu yang dibimbing.
5.    Program bimbingan dan konseling harus sesuai dengan program pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
6.    Pelaksanaan program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh seseorang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerjasama dengan para pembantunya serta dapat menggunakan sumber-sumber yang relevan di luar sekolah atau madrasah.
7.    Program bimbingan dan konseling harus diadakan penilaian secara berkala untuk mengetahui sampai di mana hasil yang telah dicapai dan untuk mengetahui apakah pelaksanaan program itu sesuai dengan yang telah direncanakan semula.[7]
e.    Teknik bimbingan dan konseling
Teknik bimbingan dan konseling disini adalah cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Dari beberapa sumber diperoleh bahwa teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling adalah:
1.    Teknik bimbingan kelompok (group guidance)
Cara ini digunakan untuk membantu siswa memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu yang menghadapi masalah dengan menempatkannya dalam suatu kehidupan kelompok. Metodenya antara lain:
a.    Program home room
Program ini dilakukan di sekolah dan madrasah (di dalam kelas) di luar jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Misalnya dengan mengadakan tanya jawab dengan siswa, menampung pendapat, merencanakan suatu kegiatan dan lain-lain.[8]
b.    Karyawisata
Karyawisata merupakan cara belajar dengan mengunjungi tempat-tempat atau objek tertentu. Melalui kegiatan karyawisata, para siswa akan memperoleh penyesuaian dalam kehidupan kelompok misalnya dalam hal berorganisasi, kerja sama, rasa tanggung jawab, dan percaya pada diri sendiri sehingga diharapan dapat mengatasi masalah siswa yang mengalami kesulitan dalam bekerja sama, dapat juga digunakan untuk mengembangkan bakat para siswa.
c.    Diskusi kelompok
Diskusi kelompok adalah suatu cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pikirannya masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dengan diskusi kelompok diharapkan siswa tumbuh rasa tanggung jawab dan mengembangkan harga dirinya karena telah memiliki keberanian tampil dan mengemukakan pendapat.
2.    Teknik bimbingan individual (individual counseling)
Teknik ini digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang bersifat pribadi. Hal ini dilakukan dengan cara face to face relationship  (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara pembimbing atau konselor dengan siswa atau klien.[9] Cara yang dilakukan antara lain:
a.    Konseling direktif (directive counseling)
Konseling ini juga dikenal dengan konseling yang berpusat pada konselor. Konseling dengan menggunakan metode ini yang berperan aktif adalah konselor. Yang berusaha mengarahkan klien sesuai dengan masalahnya. Selain itu konselor juga memberikan saran, anjuran dan nasihat kepada klien. Hal ini dilakukan oleh para penganut teori behavioral counseling.
b.    Konseling nondirektif (nondirective counseling)
Konseling nondirektif dikembangkan berdasarkan teori client centered (konseling yang berpusat pada klien atau siswa). Disini klien bebas berbicara sedangkan konselor hanya menampung dan mengarahkan. Metode ini sulit diterapkan untuk siswa yang tertutup (introvert) karena mereka biasanya pendiam dan sulit untuk diajak bicara.
c.    Konseling eklektif (eclective counseling)
Konseling eklektif merupakan metode gabungan dari metode konseling direktif dan metode konseling nondirektif. Jadi, dalam keadaan tertentu konselor menasihati dan mengarahkan konseli atau siswa sesuai dengan masalahnya, dan dalam keadaan yang lain konselor memberikan kebebasan kepada konseli atau siswa untuk berbicara sedangkan konselor mengarahkan saja. Hal ini dilakukan karena setiap siswa di sekolah atau madrasah memiliki tipe kepribadian yang tidak sama.[10]

B.  Kenakalan Remaja
1.    Pengertian kenakalan remaja
Kenakalan remaja adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh remaja itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.”[11]
2.    Bentuk kenakalan remaja
Menurut Jensen kenakalan remaja terbagi menjadi 4 jenis, yaitu:
a.    Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain (perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain).
b.    Kenakalan yang menimbulkan korban materi (perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain).
c.    Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang lain (pelacuran, penggunaan obat terlarang, hubungan seks pra nikah).
d.   Kenakalan yang melawan status (mengingkari status anak sebagai pelajar, misalnya membolos, mengingkari status orang tua dengan kabur dari rumah atau membantah perintah mereka dan lain-lain).[12]
3.    Faktor penyebab kenakalan remaja
Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang remaja melakukan tindak kenakalan. Dalam faktanya, kenakalan remaja bisa timbul karena banyak faktor. Di sini penulis akan mengklasifikasikan faktor tersebut menjadi dua berdasarkan sumber-sumber yang ada, yaitu:
a.    Faktor intern
Beberapa sebab yang dapat menimbulkan gangguan penyesuaian diri remaja yang berujung pada tindak kenakalan adalah:
a.    Sifat manifestasi dari rasa tidak aman.
b.    Kekurangan penampungan emosional.
c.    Kelemahan dalam mengendalikan dorongan-dorongan dan kecenderungannya.
d.   Kekurangan dalam pembentukan hati nurani.
e.    Manifestasi dari rasa kurang harga diri, hal ini biasa diwujudkan dengan membuat gaduh untuk mencari perhatian.
f.     Manifestasi rasa bermusuhan, hal ini biasa diwujudkan dengan bersifat sangat agresif (misalnya mencoret-coret dinding, memecahkan jendela) dan suka memukul.[13]
b.    Faktor ekstern
Faktor tersebut yaitu:
1)   Dari pihak keluarga
a.    Keluarga yang tidak normal (broken home), misalnya adanya salah satu orang tua atau kedua-duanya meninggal dunia, perceraian orang tua, salah satu kedua orang tua atau kedua-duanya “tidak hadir” secara kontinyu dalam tenggang waktu yang cukup lama.
b.    Broken home semu (quasi broken home), yaitu kedua orang tuanya masih utuh, tetapi karena ayah dan ibu mempunyai kesibukan masing-masing sehingga tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anak-anaknya.[14]
c.    Posisi yang rancu dalam lingkup keluarga, tanpa public figure dari orang tua sehingga mendorong mencari idola di luar lingkungan keluarga.[15]
2)   Pengaruh negatif yang timbul di sekolah, misalnya pengaruh teman di sekolah, kurangnya perhatian pendidik, fasilitas pendidikan yang kurang memadai dan lain-lain.
3)   Dari pihak masyarakat, misalnya persaingan dalam ekonomi, kesenjangan antara keluarga yang kaya dan keluarga yang miskin, lapangan pekerjaan yang tidak maksimal, pengaruh media massa yang kurang mendidik, maupun pengaruh luar yang sepintas lalu kelihatan tidak berkaitan dengan kenakalan remaja.[16]

C.  Upaya Bimbingan Dan Konseling Dalam Menangani Kenakalan Siswa
Samsul Munir Amin dalam bukunya yang berjudul “Bimbingan dan Konseling Islam”, langkah yang ditempuh itu meliputi prinsip-prinsip berikut:
1.    Selalu bekerja sama dengan guru atau konselor di bidang lain, mengadakan diskusi tentang problem siswa.
2.    Membina kerja sama dengan biro konsultasi remaja yang ada, pejabat-pejabat peradilan anak-anak atau kepolisian bidang pengawasan anak dan remaja.
3.    Membina kerja sama dengan pihak orang tua atau wali murid yang sebaik-baiknya dan meminta mereka ikut serta dalam kenakalan di lingkungan kehidupan keluarga.
4.    Menghindarkan remaja dari segala pengaruh media massa yang mengandung unsur-unsur yang merusak moral serta mengawasi agar tidak terlibat dengan penyalahgunaan narkotika dan lain-lain.
5.    Mengadakan pembinaan keagamaan dengan menggunakan pendekatan multidisipliner (banyak segi keilmuan) dan tidak hanya melalui ilmu agama semata.
6.    Mempolakan rencana program pencegahan di lingkungan sekolah dengan diskusi, kegiatan penyaluran emosi kepada seni budaya, olahraga dan lain-lain.
7.    Apabila terjadi kasus kenakalan, maka berusaha mengadakan pendekatan pada siswa itu kemudian mengadakan dialog dan wawancara dengan pendekatan psikologis.
8.    Jika ada yang sampai di tahanan karena terlibat pelanggaran hukum, maka mengajak siswa lainnya untuk mengunjunginya dan memberi nasihat yang memberikan harapan baik bagi masa depannya.[17]
Dari sekian banyak cara yang dilakukan, pendidikan agama merupakan faktor yang terpenting dan wajib diberikan terlebih dahulu. Karena hanya agamalah yang dapat mengendalikan manusia dan mengarahkannya kepada perbuatan yang baik, saling menolong dan membantu untuk mencapai kehidupan yang baik bagi semua orang.



[1] Hallen A., Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 3.
[2] Ibid.,  10.
[3] Tohirin, Bimbingan dan Konseling., 25.
[4] Fenti Hikmawanti, Bimbingan Konseling (Jakarta: Raja Grafinddo Persada, 2010), 18.
[5] Gantina Komalasari, Eka Wahyuni dan Karsih, Teori dan Teknik Konseling (Jakarta: INDEKS, 2011), 18.
[6] Sudianto dan Achmad Juntika Nurihsan, Manajemen Bimbingan.,  16
[7] Sudianto dan Achmad Juntika Nurihsan, Manajemen Bimbingan., 11-12.
[8] Khairul Umam dan A. Achyar Aminudin, Bimbingan dan Penyuluhan (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 150.
[9] Umam dan A. Achyar Aminudin, Bimbingan dan Penyuluhan., 152.
[10] Tohirin, Bimbingan dan Konseling., 296-301
[11] Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta:: Raja Grafindo Persada, 2002), 203.
[12] Sarwono, Psikologi Remaja., 207-208.
[13] Moeljono Notosoedirdjo & Latipun, Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan (Malang: UMM Press, 2007), 245-248.
[14] Sudarsono, Kenakalan Remaja (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), 126.
[15] Sawitri Supardi Sadarjoen, Pernak-pernik Hubungan Orangtua-Remaja, Anak “Bertingkah” Orangtua Mengekang (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2005), 75.
[16] Ibid., 28.
[17] Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam (Jakarta: AMZAH, 2010), 379-380.


BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Penelitian ini memusatkan perhatian pada upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa.Penulis menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Hadari Nawawi penelitian kualitatif adalah
Rangkaian kegiatan atau proses menjaring data atau informasi yang bersifat sewajarnya, mengenal suatu masalah dalam kondisi aspek atau bidang kehidupan tertentu pada objeknya. Data atau informasi itu dapat berbentuk gejala yang berlangsung, reproduksi ingatan, pendapat yang bersifat teoritis atau praktis dan lain-lain.[1]
Adapun ciri-ciri pendekatan kualitatif yang dikutip penulis dari beberapa sumber adalah: 1) Lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung, 2) Manusia sebagai alat (Instrumen), 3)  Menggunakan metode kualitatif, 4) Menggunakan analisis data secara induktif, 5) Teori dari dasar (grounded theory), 6) Bersifat deskriptif-analitis[2], 7) Lebih mementingkan proses daripada hasil, 8) adanya batas yang ditentukan oleh focus, 9) Adanya kriteria khusus untuk keabsahan data, 10) Desain yang bersifat sementara, 11) Hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama.[3]
Sedangkan jenis penelitian ini yang digunakan adalah studi kasus. Dalam bukunya Suharsimi Arikunto mengemukakan definisi studi kasus sebagai berikut:
Suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala-gejala tertentu.Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian studi kasus hanya meliputi daerah atau subjek yang sangat sempit, tetapi ditinjau dari sifat penelitian, studi kasus lebih mendalam.[4]

Penulis menggunakan studi kasus karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1) Sebagai sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti, 2) Menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari, 3) Sebagai sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden, 4) Memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan, 5) Memberikan uraian tebal yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas, 6) Terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.[5]
B.  Kehadiran Peneliti 
Pengumpulan datanya dengan menggunakan teknik observasi berperan serta (partisipan observation), yaitu peneliti bertindak sebagai pengamat partisipan serta kehadiran peneliti di lokasi penelitian diketahui statusnya oleh subjek atau informan.Penelitian di lapangan berkedudukan sebagai pengamat partisipan, sehingga peneliti lebih leluasa dalam mengambil dan menyimpulkan data di lapangan.[6]
C.  Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah MAN Purwoasri yang terletak di Jln. Pahlawan No. 66 Purwoasri Kediri.Dengan fokus penelitian pada upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri.
D.  Sumber Data
Sumber data dalam peneitian kualitatif adalah subjek dari mana data itu diperoleh, yaitu berupa responden, benda, gerak atau proses sesuatu serta dokumen-dokumen dan catatan.”[7]
Yang dimaksud data dalam penelitian ini adalah semua data atau informasi yang diperoleh dari informan yang dianggap paling mengetahui secara rinci dan jelas mengenai fokus penelitian yang diteliti, yaitu upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri Jln. Pahlawan No. 66 Purwoasri Kediri.Selain data yang diperoleh melalui informan, data yang diperoleh dari dokumentasi yang menunjang terhadap data yang berbentuk kata-kata maupun tindakan.
E.  Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data di lapangan dalam rangka mendiskripsikan dan menjawab permasalahan yang sedang diteliti dipergunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian, data penelitian tersebut dapat diamati oleh peneliti. Data tersebut dihimpun melalui pengamatan peneliti menggunakan pancaindra.”[8]
Metode ini penulis gunakan untuk mencari informasi pendapat tentang upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri. Observasi dilakukan dengan cara mengikuti langsung proses pendidikan di MAN Purwoasri.
2.    Wawancara (interview)
Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden (orang yang diwawancarai) dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.”[9]
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur yang ditunjukkan kepada guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, wali kelas, pegawai dan klien (siswa) yang ada di MAN Purwoasri.Metode ini digunakan untuk mengetahui dan menjawab fokus penelitian, terutama upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswa di MAN Purwoasri.
3.    Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber data non insani, misalnya data yang diperoleh melalui catatan-catatan, buku-buku, catatan harian dan sebagainya.Fungsi dari dokumen ini dipergunakan sebagai metode pelengkap, yaitu untuk memperoleh data sekiranya tidak mungkin diperoleh dengan wawancara dan observasi.Metode pengumpulan data ini dilakukan penulis untuk memperoleh data berupa arsip atau dokumen.
F.  Analisis Data
Proses analisis dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia di berbagai sumber yaitu dari berbagai wawancara, pengamatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto dan sebagainya.
Dari beberapa sumber yang diperoleh, penulis menyimpulkan bahwa teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan membuat gambaran yang sistematis dan faktual dan analisisnya dilakukan melalui tiga jalur yaitu:
1.    Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerdahanaan, pengabstrakan, dan trasformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Reduksi data berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung.[10]
2.    Penyajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.[11] Penyajian data dimaksudkan untuk menentukan pola-pola yang bermakna, serta mamberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
Pada mulanya data yang di peroleh penulis berupa kata-kata hasil wawancara dari pihak lembaga yang diwakili oleh guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, wali kelas dan beberapa klien atau siswa kemudian dijadikan narasi yang deskriptif.
3.    Penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah langkah terakhir yang dilakukan penulis dalam menganalisa data secara terus-menerus baik saat pengumpulan data atau saat penyajian data. Kesimpulan akhir dirumuskan setelah pengumpulan data tergantung pada kesimpulan-kesimpulan, catatan-catatan lapangan, pengkodean, penyimpanan data dan metode pencarian ulang yang digunakan. Verifikasi dapat dilakukan dengan singkat yaitu dengan cara mengumpulkan data baru.[12]
Penarikan kesimpulan ini ditulis setelah penelitian selesai dilakukan, mulai dari observasi atau pengamatan, hasil wawancara dengan pihak-pihak yang bersangkutan, dan didukung dengan dokumentasi-dokumentasi yang bisa mendukung hasil penelitian.
G. Pengecekan Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengecekan keabsahan data agar diperoleh temuan dan interprestasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya, yaitu dengan menggunakan teknik sebagai berikut[13]:
1.    Perpanjangan keikutsertaan
Perpanjangan keikutsertaan peneliti waktu pengamatan di lapangan akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Karena dengan perpanjangan keikutsertaan akan banyak mempelajari kebudayaan, dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi dan dapat membangun kepercayaan subjek.[14]
2.    Ketekunan pengamatan
Ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.[15]Perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, sedangkan ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman. Dalam ketekunan penelitian, peniliti mengikuti langsung pelaksanan proses pendidikan di MAN Purwoasri Jln. Pahlawan No. 66 Purwoasri Kediri.
3.    Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.[16] Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam:Pertama, triangulasi dengan sumber, yaitu membandingkan perolehan data pada tehnik yang berbeda dalam fenomena yang sama. Kedua, triangulasi dengan metode, yaitu membandingkan perolehan data dari teknik pengumpulan data yang sama dengan sumber yang berbeda.
Data-data tersebut kami ambil dari hasil observasi dan wawancara dengan kepada guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, wali kelas, pegawai dan klien (siswa).Selain itu, peneliti mengambil data dari dokumen-dokumen madrasah yang berkenaan dengan penelitian ini.

H.  Tahapan Penelitian
Dalam pelaksanaan  penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan di antaranya[17]:
1.    Tahap sebelum ke lapangan meliputi kegiatan: menyusun proposal penelitian, menentukan fokus penelitian, konsultasi kepada pembimbing, menghubungi lokasi penelitian, mengurus izin penelitian, dan seminar proposal penelitian.
2.    Tahap pekerjaan lapangan meliputi kegiatan: pengumpulan data atau informasi terkait dengan fokus penelitian dan pencatatan data.
3.    Tahap analisis data meliputi: organisasi data, penafsiran data, pengecekan keabsahan data dan memberi makna.
4.    Tahap penulisan laporan meliputi kegiatan: penyusunan hasil penelitian, konsultasi hasil penelitian, kepada pembimbing, perbaikan hasil konsultasi (revisi), pengurusan kelengkapan persyaratan ujian munaqosah.



[1] Hadari Nawawi, Penelitian Terapan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996), 176.
[2] Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 94.
[3]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Siswa Rosdakarya, 2002),4-8.
[4]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 131.
[5]Ibid., 201-202.
[6] Moleong, Metodologi Penelitian., 178.
[7] Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek(Jakarta: Rineka Cipta, 1998), 102.
[8]Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Surabaya: Airlangga University Press, 2001), 142.
[9]Bungin, Metodologi Penelitian., 133.
[10]Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian., 193.
[11]Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian., 194.
[12] Usman dan Purnama Setiady Akbar, Metodologi Penelitian.,87.
[13] Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Kediri: STAIN Kediri, 2009), 83.
[14] Moleong, Metodologi Penelitian., 175-176.
[15]Ibid., 177.
[16]Ibid., 178.
[17]Ibid., 86-90.

PEDOMAN WAWANCARA

1.    Kepada BK
a.       Bentuk-bentuk kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.    Apa saja bentuk-bentuk dari pelanggaran ringan, sedang dan berat?
2.    Pelanggaran apa saja yang sering dilakukan siswaMAN Purwoasri?
3.    Pelanggaran ringan, sedang dan berat dilakukan remaja pada jam pelajaran atau di luar jam pelajaran?
4.    Kapan biasanya siswaMAN Purwoasri melakukan kenakalan?
5.    Dimana biasanya siswaMAN Purwoasri melakukan kenakalan?
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.      Apakah teman pergaulan mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
2.      Apakah perhatian orang tua yang berlebihan mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
3.      Apakah lingkungan tempat tinggal mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
4.      Apakah jumlah saudara dan permasalahan ekonomi dalam keluarga dapat menyebabkan kenakalan siswa?Mengapa?
5.      Selain faktor-faktor di atas, faktor apa saja yang menyebabkan siswaMAN Purwoasri melakukan kenakalan?
c.       Upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri
1.    Sanksi apa saja yang diberikan kepada siswayang melakukan kenakalan?
2.    Apa langkah-langkah guru BK dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri?
3.    Siapa saja pihak yang terkait dalam menangani kenakalan siswa?
4.    Upaya apa saja yang dilakukan BK dalam menangani kenakalan siswa?
5.    Apakah BK di MAN Purwoasri mengadakan kerjasama dengan instansi pemerintah dalam rangka menangani kenakalansiswa? Dengan instansi apa saja?
6.    Hambatan apa saja yang di alami guru BK dalam menangani kenakalansiswa? Bagaimana solusinya?
2.    Kepada guru mata pelajaran
a.       Bentuk-bentuk kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.    Apa saja bentuk-bentuk dari pelanggaran ringan, sedang dan berat?
2.    Pelanggaran apa saja yang sering dilakukan siswaMAN Purwoasri?
3.    Pelanggaran ringan, sedang dan berat sering dilakukan siswalaki-laki atau perempuan?Siswatersebut kelas berapa?
4.    Pelanggaran ringan, sedang dan berat dilakukan siswapada jam pelajaran atau di luar jam pelajaran?
5.    Kapan biasanya siswa melakukan kenakalan di MAN Purwoasri?
6.    Dimana biasanya sisw amelakukan kenakalan di MAN Purwoasri?
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.    Apakah teman pergaulan mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
2.    Apakah perhatian orang tua yang berlebihan mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
3.    Apakah lingkungan tempat tinggal mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
4.    Apakah jumlah saudara dan permasalahan ekonomi dalam keluarga dapat menyebabkan kenakalan siswa?Mengapa?
5.    Apakah broken home mempengaruhi siswaberbuat nakal? Mengapa?
6.    Selain faktor-faktor di atas, faktor apa saja yang menyebabkan siswaMAN Purwoasri melakukan kenakalan?
c.       Upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri
1.    Sanksi apa saja yang diberikan kepada siswayang melakukan kenakalan?
2.    Apa langkah-langkah guru dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri?
3.    Siapa saja pihak yang terkait dalam menangani kenakalan siswa?
4.    Hambatan apa saja yang di alami dalam menangani kenakalan siswa? Bagaimana solusinya?
5.    Bagaimana cara guru menangani kenakalan siswayang ada dalam kelas?
3.    Kepada siswa
a.       Bentuk-bentuk kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.    Pernahkah Saudara melanggar peraturan madrasah?
2.    Pelanggaran apa saja yang Saudara lakukan?
3.    Pelanggaran apa yang sering Saudara lakukan?
4.    Jika Saudara memiliki permasalahan, biasanya bentuk pelampiasan yang Saudara lakukan apa?
5.    Kapan biasanya remaja melakukan kenakalan siswadi MAN Purwoasri?
6.    Dimana biasanya remaja melakukan kenakalan siswadi MAN Purwoasri?
b.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswadi MAN Purwoasri.
1.    Apakah teman pergaulan mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
2.    Apakah lingkungan tempat tinggal mempengaruhi kenakalan siswa?Mengapa?
3.    Apakah jumlah saudara dan permasalahan ekonomi dalam keluarga dapat menyebabkan kenakalan siswa?Mengapa?
4.    Apakah broken home mempengaruhi siswaberbuat nakal? Mengapa?
5.    Selain faktor-faktor di atas, faktor apa saja yang menyebabkan siswaMAN Purwoasri melakukan kenakalan?
c.       Upaya bimbingan dan konseling dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri
1.    Ketika Saudara melakukan pelanggaran, hukuman apa yang Saudara terima?
2.    Sudah sesuaikah hukuman yang diberikan BK terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswaMAN Purwoasri?
3.    Apa langkah-langkah guru BK dalam menangani kenakalan siswadi MAN Purwoasri?
4.    Siapa saja pihak yang terkait dalam menangani kenakalansiswa?
5.    Bagaimana cara guru BK menanggulangi kenakalan siswayang ada dalam kelas?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar