AWUT




Perbedaan antara penelitian kuantitatif dengan kualitatif :
Kuantitatif mempelajari ilmu-ilmu keras
•    Fokus “ringkas” dan sempit
•    Reduksionistik
•    Obyektif
•    Penalaran logis dan deduktif
Basis pengetahuan: hubungan sebab- akibat
•    Menguji teori
•    Kontrol atas variabel
•    Instrumen
•    Elemen dasar analisis: angka
•    Analisis statistik atas data
•    generalisasi

Kualitatif mempelajari ilmu- ilmu lunak
•    Fokus kompleks dan luas
•    Holistik atau menyeluruh
•    Subyektif atau perspektif emik
•    Penalaran: dialektik – induktif
Basis pengetahuan: makna dan temuan
•    Mengembangkan teori
•    Sumbangsih tafsiran
•    Komunikasi dan observasi
•    Elemen dasar analisis: kata- kata
•    Interpretasi individual
•    keunikan


Ciri-ciri utama penelitian kualitatif:

• Mempunyai latar alami

• Bersifat deskriptif

• Lebih mementingkan proses

• Analisa data induktif

• Lebih menekankan pada makna


Jenis-jenis metode kualitatif:
• Penelitian fenomenologi

• Penelitian teori grounded

• Penelitian etnografi

• Penelitian historis

• Penelitian kasus

• Inkuiri filosofi

• Teori kritik sosial

Dasar-dasar teori dalam penelitian
kualitatif:

• Pendekatan fenomenologi

• Pendekatan interaksionisme simbolik

• Pendekatan kebudayaan

• Pendekatan etnometodologi


Etika dalam penelitian kualitatif:

• Melindungi identitas subyek
• Memperlakukan subyek dengan rasa hormat

Memperjelas persetujuan dan kesepakatan dengan subyek penelitian

Menulis apa adanya pada waktu menulis dan melaporkan penemuan- penemuan penelitian


Bagian inti dari skripsi hasil kajian Kualitatif
• BAB I Pendahuluan
• BAB II Landasan teoritis
• BAB III Metodologi Penelitian
• BAB IV Paparan Data dan Temuan
Penelitian

• BAB V  Pembahasan

• BAB VI Penutup


Pada bagian pendahuluan terdiri dari:

• Konteks Penelitian

• Fokus penelitian

• Tujuan penelitian

• Kegunaan Penelitian

Konteks penelitian memuat



Uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa penelitian ini dilakukan, dan siapa yang mengarahkan penelitian


Fokus penelitian berisi:


Pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan


Tujuan penelitian
mengungkapkan:


Sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan fokus penelitian


Kegunaan penelitian


Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian, terutama bagi pengembangan ilmu dan pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Uraian dalam sub bab ini berisi tentang kelayakan atas masalah yang diteliti


Landasan teori dimanfaatkan untuk:
Memandu agar fokus penelitian sesuai dengan lapangan penelitian

Memberi gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian


Metodolgi penelitian terdiri dari:
•  Pendekatan dan jenis penelitian

•  Kehadiran peneliti/ lokasi penelitian

•  Sumber data

•  Prosedur pengumpulan data

•  Analisis data

•  Pengecekan keabsahan temuan

•  Tahap tahap pnelitian
Pendekatan dan jenis penelitian
mengemukakan:
• Pendekatan yang digunakan

Orientasi teoritik yang dipakai untuk memahami makna

• Jenis penelitian yang digunakan

Pada sub bab lokasi penelitian perlu
diuraikan:

• Identifikasi karakteristik lokasi

• Alasan memilih lokasi

• Bagaimana cara memasuki lokasi
Pada sub bab kehadiran peneliti
perlu disebutkan:

Peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data
•  Kehadiran peneliti di lapangan mutlak diperlukan
•  Kehadiran peneliti harus dilukiskan secara eksplisit
•  Peran peneliti

Apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subyek

Pada sub bab sumber data perlu
dilaporkan:


• Jenis data apa saja yang dikumpulkan

Sumber data (siapa saja yang dijadikan informan dan bagaimana ciri cirinya

Teknik penjaringan data (dengan cara bagaimana data dijaring)








Pada sub bab prosedur
pengumpulan data diuraikan: teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya: observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi







Pada bagian analisis data diuraikan
proses pelacakan dan pengaturan
secara sistematis transkrip transkrip
wawancara, catatan lapangan dan
bahan bahan lain agar peneliti
dapat menyajikan temuannya








Pada bagian pengecekan keabsahan
temuan diuraikan: usaha usaha peneliti
untuk memperoleh keabsahan
temuannya, misalnya: kredibilitasnya,
transferabilitas, dependabilitas, dan
confirmabilitasnya






Tahap tahap penelitian menguraikan:
proses pelaksanaan penelitian, mulai
dari penelitian pendahuluan,
pengembangan desain, penelitian
sebenarnya, sampai pada penulisan
laporan

UPAYA BIMBINGAN KONSELING DALAM MENGATASI KENAKALAN SISWA MAN PURWASRI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian
Kehidupan dewasa ini menunjukkan suatu masa transisi dalam hampir di segala bidang kehidupan, baik dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, ekonomi, pemerintahan maupun dalam pendidikan sekolah, bahkan dalam pola-pola pemikiran manusia. Menurut W. S. Winkel S. J dalam bukunya yang berjudul Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah menyatakan bahwa:
Mengalami suatu masa transisi menimbulkan segala macam tantangan dan kesukaran, baik bagi mereka yang sudah berumur agak tua maupun bagi mereka yang masih muda. Tantangan dan kesukaran ini dapat bersifat ringan, agak berat bahkan sangat berat sesuai dengan penilaian seseorang terhadap hal yang dihadapinya.[1]

Masalah yang ringan biasanya mudah diselesaikan sendiri, tetapi penyelesaian suatu masalah yang kompleks sukar dan sering kali menuntut bantuan dari orang lain. Ada orang yang berkeinginan kuat dan juga mampu menyelesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi sekarang ini atau yang akan mereka alami kelak, dengan membuat pilihan yang tegas di antara berbagai kemungkinan (alternatif) atau dengan mengadakan penyesuaian diri dalam situasi di mana tidak mungkin untuk memilih antara berbagai kemungkinan. Akan tetapi ada pula orang yang tidak sebegitu mampu untuk mencari penyelesaian sendiri, sekurang-kurangnya pada waktu tertentu atau selama mereka masih dalam tahap perkembangan menuju kedewasaan.
Adapun pengertian remaja menurut Conger merupakan “masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan the best of time and the worst of time.”[2] Hal ini berarti bahwa kalau individu itu mampu mengatasi berbagai tuntutan yang dihadapinya secara integratif, maka ia akan menemukan identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya kalau ia gagal, maka ia akan berada dalam krisis identitas yang berkepanjangan.
Keberadaan kenakalan siswa di Indonesia saat ini merambah segi-segi kriminal yang secara yuridis formal menyalahi ketentuan-ketentuan yang termaktub di dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau Perundang-undangan Pidana di luar KUHP, misalnya Undang-undang Narkotika.
Dari perkembangan yang terjadi, yang melatarbelakangi timbulnya kenakalan siswa sekarang tidak hanya meningkat dari segi kuantitas tetapi sudah bertambah dalam segi kualitas. Seperti halnya merosotnya moral, etika, serta terjadinya peralihan nilai-nilai universal yang tidak semestinya terjadi.
Mengenai istilah kenakalan remaja, John W. Santrock dalam bukunya “Life-Span Developmentmenyatakan bahwa: “kenakalan remaja (juvenile deliquency) mengacu kepada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan di sekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah) hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri).[3]